Rumah panggung yang dibangun tahun 1926 masih berdiri kokoh di Jalan Merbau, Selatpanjang. Pada dindingnya terdapat lubang bekas peluru yang ditembakkan Belanda pada Desember 1948. Rumah berbahan kayu ini salah satu rumah yang selamat akibat serangan bombardir Belanda.
Meski Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, pihak Belanda kembali mencoba menduduki Indonesia. Salah satunya Selatpanjang, ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, kabupaten termuda di Riau hasil pemekaran dari Kabupaten Bengkalis Tahun 2008 lalu.
Bulan Juni 1947 tiga kapal Belanda yaitu P18, RP dan P12 dan masuk ke perairan Selat Air Hitam, selat yang memisahkan Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Rangsang. Kota Selatpanjang sendiri berada di Pulau Tebing Tinggi.
Para pejuang membangun pondok pengintaian yang dibangun di atas pohon Jawi-jawi, sejenis pohon beringi berdaun lebar di bibir Pantai Selatpanjang. Setiap ada kapal yang masuk ke perairan Selat Air Hitam, akan terlihat dari pondok ini.
Dari atas kapal, Belanda menembakkan meriam dan mortir ke arah Selatpanjang. Para pasukan TNI membalas dengan menggunakan meriam kuno peninggalan Kesultanan Siak. Selain itu, dari atas Kapal Banteng, pasukan TNI menembakkan peluru ke arah kapal Belanda. Serangan yang kedua membuat Tentara Belanda memilih mundur dan kembali ke pangkalannya di Tanjung Batu, Kepulauan Riau.
Sebulan kemudian, Belanda kembali memasuki perairan Selatpanjang dan melepaskan tembakan ke arah Pasukan TNI yang berjaga di tepi laut kota Selatpanjang. Lagi-lagi pasukan Belanda gagal dan memillih mundur.
Syaidina Ali, Komandan Kompi Militer II Selatpanjang yang memimpin perlawanan pasukan TNI mendapat apresiasi dari Pemimpin Resimen IV Riau, Letkol Hasan Basri. Syaidina Ali dipercaya menjadi Komandan Batalyon IV merangkap Komandan Daerah Militer Siak Sri Indrapura.
Beliau menggantikan Mayor Arifin Achmad yang mendapat jabatan baru sebagai Kepala Staf Resimen V Divisi IX Rengat. Kelak Arifin Achmad menjadi Gubernur Riau periode 1966-1978 dan diabadikan namanya menjadi nama Jalan dan Rumah Sakit di Pekanbaru.
Kapten Simon Delima yang bertugas di Rengat ditunjuk menggantikan posisi Syaidina Ali.
Pada 27 Desember 1948, Simon Delima mengeluarkan surat perintah kepada seluruh prajurit TNI, Barisan Rakyat Laskar Sabilillah dan kelompok bersenjata lainnya untuk tidak melakukan perlawanan atau penembakan yang akan masuk ke Selatpanjang pada 29 Desember 1948. Alasannya, keterbatasan senjata yang dimiliki TNI dan Pejuang.
Letda A Murad Saidun, Wakil Komandan Militer II Selatpanjang tak sependapat dengan Kapten Simon. Alasannya kemerdekaan Indonesia yang telah didapat mesti dipertahankan. Hari itu juga para wanita dan anak-anak mulai diungsikan di luar Kota Selatpanjang, seperti Borot, Semulut, Jogih dan Alai.
Keesokan harinya, A Murad Saidun mengeluarkan perintah yang bertentangan dengan perintah Komandannya. Isinya Tentara dan Pejuang harus menggalang kekuatan melawan Belanda.
Beberapa orang dari Barisan Rakyat Laskar Sabilillah ditugaskan di Jambat Kaso, Dusun Suak, Kampung Banglas untuk mengantisipasi gerak langkah pasukan Belanda. Di lengan mereka diikat dengan kain bertuliskan PK, yang berarti Penjaga Kampung. Mahmud Jalal ditugaskan sebagai komandan. Ia dibantu oleh delapan anggota.
Jambat Kaso sendiri merupakan pelabuhan kecil tempat keluar masuknya sagu dan hasil bumi lainnya. Pelabuhan ini dibangun Jepang untuk kepentingan Kaso Kabushiki Kaisa, badan usaha yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran sagu.
Saat subuh 29 Desember 1948, 2 Kapal Patroli Belanda, P8 dan RP tiba di Selatpanjang dari Tanjung Batu.
Sementara kapal P12 bersiaga di perairan Selat Air Hitam. Setibanya di Jambat Kaso pada pukul 05.30, dari kedua kapal tersebut turun 30 tentara Belanda.
Para pejuang penjaga kampung berbagi tugas. Mahmud Jalal tetap disana bersama sebagian pasukan, sementara itu Kadir Jalal dan yang lainnya bergerak ke kota dengan berpencar untuk menyampaikan bahwa Belanda telah datang di Jambat Kaso.
Belanda mulai bergerak menuju kota Selatpanjang. 100 meter berjalan, pasukan Belanda melihat Mahmud Jalal yang telah siap dengan senapan lantaknya. Senapan bercaliber 12 ini merupakan rakitan Abdul Jalal, Ayahnya yang biasanya digunakan untuk berburu.
Mahmud Jalal menembakkan senjatanya ke arah Tentara Belanda. Meski meletus, pelurunya gagal terlontar.
Sersan Chris, salah seorang komandan Peleton Tentara Belanda segera memerintahkan anak buahnya untuk menikam Mahmud Jalal. Chris melarang untuk menembak, karena khawatir suara senapan akan mengundang kedatangan pejuang Selatpanjang lainnya.
Mahmud Jalal yang dalam keadaan tangan kosong tewas menghadapi pasukan belanda. Ia meninggal dengan 8 tusukan bayonet.
Belanda kemudian memasuki arah Kota Selatpanjang dan menangkap Kadir Jalal di tengah jalan yang belum sempat melaksanakan tugasnya. Kadir Jalal berkali-kali dipukul menggunakan senapan oleh Belanda karena ia menolak memberitahu dimana para pejuang menunggu Belanda.
Memasuki kota, Tentara Belanda menembaki setiap orang yang mereka temui, tak peduli rakyat biasa ataupun pejuang. Setiap orang yang ditangkap kemudian dibawa ke Sekolah Rakyat Nomor 2, sekarang SD Negeri 005 Selatpanjang. Disini, semua yang tertangkap dibariskan lalu ditembak.
Di dalam kota, perang masih terjadi. Dari jalan-jalan kecil, para pejuang dan TNI terus menyerang Belanda. Banyak korban dari pihak Selatpanjang. Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) yang membantu pengobatan dan perawatan pasukan TNI dan pejuang. Mayat para pejuang yang gugur dibawa ke Rumah Sakit Selatpanjang, Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini. Diperkirakan pasukan TNI dan pejuang yang gugur mencapai 80 orang.
Pasukan TNI dan para pejuang mundur dan mengungsi ke Alai ketika Belanda mulai merapat ke Pusat Kota. Di sana mereka memulai menyusun taktik gerilya untuk pertempuran selanjutnya.
Belanda dengan cepat mencari keberadaan Datuk Abdul Gani, Asisten Wedana Selatpanjang. Ia kemudian tewas ditembak prajurit Belanda. Kapal P12 yang sejak subuh bersiaga di Selat Air Hitam mulai merapat dan berlabuh ke Selatpanjang.
Kapal P12 berarti Patrolie 12. Kapal ini merupakan kapal perang terbesar milik Belanda dibandikan kapal-kapal lainnya yang melintas di Selat Air Hitam. Kapal ini dilengkapi dengan alat pendeteksi, alat komunikasi radio panggil, cadangan logistik militer, dan berbagai peralatan perang.
Puluhan tentara Belanda dan pegawai pemerintah sipil Netherlands Indische Civil Administration (NICA) mulai turun dari kapal beserta perlengkapan perangnya.
Tentara Belanda yang tewas di Kota Selatpanjang kemudian diangkut ke Kapal P12 untuk dibawa ke Tanjung Batu. Pasukan Belanda yang tewas tidak diketahui jumlahnya. Pihak Belanda merahasiakan info tersebut agar menimbulkan simpang siur terhadap pejuang.
Salah seorang pejuang yang menjadi saksi mata melihat Komandan Kompi II Kapten Simon Delima juga ikut masuk ke dalam kapal P12. Hal ini menimbulkan kecurigaan di kalangan para pejuang Selatpanjang tentang kesetiaan dari Simon Delima.
Di beberapa batas kota Selatpanjang, Belanda memasang bendera merah yang menandakan Selatpanjang berada dalam kekuasaan mereka.
Sumber: Buku Tanah Jantan Yang Melawan, karya Afrizal Cik.